Pemkot Balikpapan Akan Berlakukan Pembatasan Jam Malam

Praba   04 September 2020

 

BALIKPAPAN-Pemerintah Kota Balikpapan berencana memberlakukan pembatasan jam malam guna membatasi kegiatan masyarakat selama pandemi. 

 

Pembatasan itu, bertujuan untuk mengendalikan dan mencegah penyebaran Covid-19 di Kota Balikpapan, kian hari kian meningkat. 

 

"Dua hari terakhir, angka terkonfirmasi positif di Kota Balikpapan sangat tinggi, berada di atas 90. Kami berencana memberlakukan jam malam untuk membatasi kegiatan masyarakat," tutur Wali Kota Balikpapan Rizal Effendi dalam jumpa pers di Kantor Wali Kota, Kamis (3/9/2020)

 

Rizal Effendi selaku Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Balikpapan menjelaskan, rencana pembatasan jam malam ini masih dalam tahap kajian. 

 

Untuk sementara, penerapannya akan ditujukan kepada tempat maupun pelaku usaha yang beraktivitas sampai tengah malam. 

 

Karena saat tengah malam terdapat potensi untuk tidak menerapkan protokol kesehatan.

 

"Pelaku usaha yang buka sampai tengah malam seperti pertokoan, kafe-kafe akan kami batasi, begitu juga dengan tempat terbuka seperti Lapangan Merdeka sehingga, tidak ada aktivitas lagi di sana," ujarnya.

 

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Balikpapan Andi Sri Juliarty menyampaikan, jumlah terkonfirmasi positif Covid-19, pada Kamis (3/9/2020) kemarin, sebanyak 97 orang, 40 menyelesaikan isolasi, dan 2 kasus meninggal dunia, di mana 1 terkonfirmasi positif dan 1 probable.

 

Dengan adanya peningkatan kasus ini, rumah sakit rujukan khususnya RS Kanujoso Djatiwibowo dan RS Pertamina Balikpapan telah menambah kapasitas tempat tidur untuk merawat pasien Covid-19.

 

Sehingga jumlah daya tampung untuk pasien Covid-19 di seluruh kota Balikpapan saat ini menjadi 306 tempat tidur, dari sebelumnya sebanyak 212. 

 

"Saat ini jumlah pasien Covid-19 yang perlu menjalani perawatan dapat tertampung di rumah sakit, sebanyak 240," ungkapnya.

 

Sementara itu, pertambahan 97 terkonfirmasi positif hari ini, sebagian besar berasal dari riwayat tanpa gejala yang melakukan pemeriksaan mandiri sebanyak 41, kemudian suspek dengan keluhan sejumlah 24 kasus, dan 32 lainnya berasal dari perluasan tracking kasus sebelumnya. (ay)